BELAJAR DARI PENJUAL KORAN
- Angela Modo
- Nov 29, 2016
- 4 min read
Updated: Aug 24, 2019
Hari masih pagi, namun udara panas begitu menyengat di kulit. Kami bergegas turun dari angkutan umum. Ya hari ini, saya bersama 13 teman kampus mendapat tugas untuk mencari pekerjaan selama 3 jam. Tembalang, Semarang adalah lokasi yang menjadi sasaran kami untuk mencari kerja. Setelah mendapat beberapa instruksi dari supervisor kami, kami segera bergegas untuk mencari pekerjaan di daerah Tembalang, Semarang.
Saya pun segera berjalan menyusuri pinggiran jalan raya. Pandangan saya segera tertuju pada sebuah warteg (warung tegal) yang tepat berada di kiri jalan. Dari kejauhan, saya melihat beberapa orang wanita sedang memotong wortel. Saya pun memasuki warteg dan menyampaikan maksud kedatangan saya. “Selamat siang, mbak. Saya boleh bantu – bantu di sini sampai jam setengah dua belas ngga mbak ?” ujar saya. Namun, saya ditolak dengan alasan atasan mereka belum datang. Setelah berpamitan, saya mencoba masuk di sebuah warung sate yang berada tepat di samping warteg sebelumnya. Dengan pertanyaan yang sama, saya kembali ditolak dengan alasan yang sama pula. Saya pun meninggalkan warung sate tersebut dan melanjutkan kembali perjalanan saya. Ternyata susah sekali mencari pekerjaan. Tidak seperti yang saya bayangkan selama ini.
Berjalan sebentar, tiba – tiba saya merasa tertarik untuk mencoba membantu sepasang suami istri yang sedang menjajakan koran. “ Selamat saing, Bu. Bu saya boleh membantu ibu sampai jam dua belas ngga ? Udah dua kali nyari tapi ditolak terus Bu” cerita saya. Awalnya mereka berdua ragu – ragu. Mungkin karena kasihan mendengar cerita saya, Ibu tersebut bersedia untuk saya bantu. “Tapi panas loh, Mbak. Ini Ibu bentar lagi juga pulang” sambung Ibu tersebut. “Ngga apa, Bu. Ini kebetulan dapat tugas dari kampus. Jadi harus dijalanin Bu”. Aturan dari tugas kami yaitu tidak boleh memberi informasi tentang kampus kami. Jadi kami betul – betul merahasiakan identitas kami. Saya hanya menyampaikan bahwa kami mendapat tugas kuliah, dan harus terjun langsung untuk mendapat data. Untunglah pasangan suami istri tersebut memercayai cerita saya.
Sambil menunggu orang – orang yang hendak membeli koran, saya bercerita banyak dengan mereka. Nama bapak itu adalah Slamet. Beliau adalah seorang loper koran (saya mengetahui istilah ini dari Pak Slamet). “Loper koran itu, penjual koran, Mbak” jelas Pak Slamet.
Pak Slamet memiliki dua orang anak. Anak yang pertama sedang duduk di bangku SMP, sedangkan anak yang paling kecil masih berumur 4 bulan. Sudah 5 tahun Pak Slamet dan istrinya berjualan koran di daerah ini. Istri Pak Slamet seorang ibu rumah tangga. Namun di pagi hari saat Pak Slamet mengantarkan koran kepada pelanggan, Bu Slamet lah yang menggantikan tugas Pak Slamet untuk menjaga tempat koran mereka. “Ibu nunggu Bapak nganter koran ke pelanggan,Mbak. Kalau udah selesai nganter, biasanya Bapak ke sini, nganter Ibu pulang dulu. Baru balik ke sini lagi” cerita Bu Slamet.
Secara rinci, Pak Slamet memberitahukan harga – harga koran yang ia jual. Mulai dari Tribun Jateng yang di jual dengan harga Rp 1.000,00- sampai dengan Jawa Pos yang harganya Rp 5.000,00-. “Kamu toh, Mbak sambil dibaca korannya. Biar waktu di tanya sama pembeli, Mbak bisa cerita ke pembeli berita apa yang lagi ramai saat ini” tambah Pak Slamet. Ternyata cara tersebut menjadi salah satu cara mereka untuk menjajakan dagangannya.
Pak Slamet bercerita banyak sekali. Salah satu yang paling saya ingat adalah pendapat beliau mengenai pekerjaan. Pekerjaan itu susah dicari, kalau kita sendiri terlalu pemilih dalam pekerjaan. “Kalau kerja itu ngga usah milih – milih,Mbak. Kamu bisa apa ya, lakukan” ujar Pak Slamet menanggapi ucapan saya “Nyari kerja ternyata susah ya, Pak”.
Saya juga sempat bertanya mengenai asap kendaraan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Mengingat keseharian Pak Slamet yang selalu berada di pinggir jalan. Beliau hanya tertawa, dan menjawab dengan nada pasrah “Sekarang sih masih sehat – sehat saja ya,Mbak. Ngga tahu kalau udah umur 50an, mungkin baru tahu penyakitnya”. Dengan sedikit bercanda, beliau agak merasa risih ketika harus menggunakan masker setiap saat.
Setiap pekerjaan tentu ada suka dan duka. Salah satunya adalah ketika Pak Slamet menghadapi pelanggan yang sering menunda – nunda untuk membayar koran langganannya. Di situ, cerita beliau, hanya menurut dan menunggu sampai pelanggan membayar tagihannya. Belum lagi ketika hujan turun saat Pak Slamet mengantarkan koran. Yang beliau utamakan adalah menjaga koran agar tidak basah, ketimbang melindungi dirinya dengan jas hujan.
“Mbak, nanti kalau di lihat sama teman – temannya lagi jualan koran gimana, Mbak ?” sebuah pertanyaan kembali dilontarkan untuk saya. Namun saya tetap bersikeras untuk membantu mereka sampai jam yang telah ditentukan. “Ngga apa,Pak. Santai aja. Ngapain malu, Pak. Toh ini kerjaannya halal hehehehe..” jawab saya sambil tersenyum. Sesekali saya melayani para pembeli koran, karena hari itu pembeli koran sendiri tidak terlalu banyak.
Entah terlalu menghayati pekerjaan baru, tiba – tiba dua orang teman menghampiri saya. Saya melirik jam tangan yang ada di tangan kiri saya. Wah sudah selesai ternyata. Teman – teman saya mengajak untuk berkumpul kembali, di tempat kami diturunkan di awal. Sebelum mengakhiri tugas saya, saya berpamitan kepada Pak Slamet. Tidak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih, karena telah diizinkan untuk membantu dan mendapat ilmu dari menjual koran. Sebelum pergi, saya dibekali dengan 2 botol minuman. “Sukses kuliahnya ya, Mbak. Semoga cepat lulus” ucap pak Slamet melepas kepergian kami.
Pengalaman 26 November 2016 ini, betul – betul mengajarkan saya banyak hal. Memberikan pandangan mengenai sebuah pekerjaan. Sebuah pekerjaan yang mungkin di pandang sebelah mata, namun justru dari sinilah saya belajar. Saya tidak bermaksud untuk mengajak pembaca menjadi seorang tukang koran. Bukan. Tapi bagaimana seseorang menjalani hidupnya dengan sungguh – sungguh. Kembali lagi pada perkataan pak Slamet “Kalau kerja itu ngga usah milih – milih,Mbak. Kamu bisa apa ya, lakukan”. ( Angela )
Comments